Have an account?

Rabu, 06 Juni 2012

Burjo..? apaan yaa..??

Burjo..? apaan tuh..??
bagi sebagian orang yang bertempat tinggal di luar kota Yogyakarta, yang diketahui tentang burjo adalah singkatan dari sebuah makanan yaitu Bubur Kacang Hijau (ijo). Dimana yang dijual pada warung tersebut adalah makanan tersebut. Namun, coba lihat di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. banyak warung burjo tersebar di mana-mana. 
Makanan yang ditawarkan pun bermacam-macam tidak hanya bubur kacang hijau saja. Biasanya pemilik warung menyediakan nasi dan lauk pauk sederhana, mie instan, dan aneka minuman untuk dikonsumsi pembeli. Dan yang lebih unik lagi, yang menjadi menu utama di burjo itu sendiri adalah menu-menu selain dari burjo seperti nasi telur, nasi sarden, dan lain sebagainya, bukan burjo itu sendiri. Sungguh luar biasa. :) 
Dan yang lebih asyik lagi, warung burjo ini kebanyakan buka 24 jam nonstop..!! hal ini dapat dilakukan dengan sistem pergantian pelayan di warung untuk tetap melayani para pelanggan yang biasanya kebanyakan para mahasiswa yang sengaja begadang untuk nonton bols bersama-sama. sistem pergantian ini mutlak diberlakukan, kadang ada juga pelayan yang bukan masa kerjanya tetap ikut membantu pekerjaan temannya yang mendapatkan sift malam.
Urusan harga, burjo menyesuaikan dengan kondisi. Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp 500,- untuk gorengan dan sejenisnya sampai Rp 7000,- untuk makanan nasi ayam dan magelangan
Warung burjo bukan sembarang warunf. Bila diperhatikan semua warung burjo menjajakan makanan yang sama, resep bubur kacang hijau yang hampir sama dan pelayan yang mayoritas berasal dari suku yang sama. Tradisi ini merupakan peraturan tidak tertulis yang berasal dari daerah adat warung burjo itu sendiri, yaitu Kuningan, Jawa Barat.
Mayoritas pelayan warung burjo berasal dari daerah tersebut. Para pelayan burjo itu sendiri tidak mengetahui siapa sebenarnya yang memiliki warung burjo pertama kali,tapi menurut mereka warung burjo ini sudah ada kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.
dari daerah Kuningan itu lah, warung burjo mulai populer. daerah lain yang menjadi tempat penyebaran warung burjo selain Yogyakarta dan sekitarnya yaitu di Jakarta. Sasaran utama warung burjo di Yogyakata adalah mahasiswa, dan di Jakarta adalah para pegawai. Karena sasaran yang berbeda itulah harga yang ditawarkan warung burjo di berbagai kota sedikit berbeda.
Tapi jangan khawatir Sob, harga di burjo tidak akan melambung jauh dibanding warung makan yang lainnya.. Bagi yang merasa aneh dengan warung burjo ini, jangan khawatir.. Karena rasa masakannya pun tidak kalah enaknya dengan warung makan yang lainnya. :)

Kamis, 01 Maret 2012

Keraton...?? jangan lupa mampir di "Plengkung Wijilan"


Yogyakarta memang tiada habisnya..
setelah berkunjung di tempat nongkrong sambil ngopi "JOOSS", sekarang kita berkunjung ke tempat yang lainnya, di Jl. Wijilan yaitu Plengkung Wijilan. :D



Plengkung Wijilan berada di sebelah timur Keraton Yogyakarta . Plengkung dalam bahasa Indonesia bisa juga disebut gapura atau gerbang. Plengkung Wijilan adalah gapura keraton yang berada di sisi timur Keraton Yogyakarta. Nama aslinya adalah Plengkung Tarunasura, karena lokasinya yang berada di daerah Wijilan maka lebir terkenal dengan Plengkung Wijilan.

Daerah di sekitar Plengkung Wijilan banyak dijumpai penjaja masakan yang sangat terkenal yaitu gudeg, kompleks gudeg tepatnya. Dari Plengkung Wijilan ini, Anda bisa memasukin kawasan jeron benteng (dalam benteng) lingkungan keraton, yang nantinya bisa tembus sampai ke arah alun-alun kidul . Tetapi jika Anda tidak masuk melewati Plengkung Wijilan, dan dari depan plengkung Wijilan Anda menuju ke barat, Anda akan tembus masuk ke alun-alun lor .

Selain masakan gudeg, disekitar plengkung wijilan tepatnya di depan dan samping kanan-kirinya Anda bisa menemukan toko-toko yang menjual cinderamata khas Jogja yang berupa batik maupun kaos-kaos bernuansa Jogja. Plengkung Wijilan ini ukurannya tidak sebesar Plengkung Gading yang berada di selatan Keraton Yogyakarta. Maka jika Anda gemar berpose di depan kamera, di Plengkung Wijilan ini lokasinya terbatas, tidak seleluasa Plengkung Gading. Tapi jika Anda gemar berkuliner dan berbelanja dengan nuansa linkungan Keraton Yogyakarta, di sinilah tempatnya, apalagi ditambah dengan lokasinya yang tidak jauh dengan pusat perbelanjaan Malioboro.
gimana-gimana..?? boleh dong jadi tujuan selanjutnya bagi kamu-kamu yang lagi pengen nongkrong-nongkrong di sekitaran Jogja. :)

Minggu, 19 Februari 2012

ngopi..?? joosss..

Pak Man
Seorang pria tua yang akrab dipanggil Pak Man telah membuat kopi joss sejak tahun 1960-an. Seperti kebanyakan racikan kopi dari daerah ini, ia mencampur bubuk kopi dengan empat sendok gula. Kemudian ia menuang air panas dari ketel besi dan diikuti dengan memasukkan bahan utama: arang yang masih menyala dari api kompor.

Arang membantu menetralisasi asam lambung dan sudah lama menjadi obat bagi masalah gas dan kembung. Kini demi kepraktisan, tablet arang memang dijual di apotek, tetapi 50 tahun lalu kopi tampaknya adalah cara yang lebih menyenangkan untuk mencerna obat yang mengatasi masalah perut dan usus.
Meski beberapa peramu kopi arang bilang minuman ini membangkitkan stamina, kopi arang mendapatkan popularitas lebih karena keunikannya. Sebagai minuman pilihan, orang sering memilih teh atau tape, fermentasi dari singkong. Dan dari pukul 17.00 sampai dini hari, orang duduk lesehan di depan warung sambil ngobrol — aktivitas favorit di kota yang terkenal sebagai kota pelajar ini.

Tipe kerumunan yang datang tergantung jam kedatangan. Kadang pegawai kantoran mampir sepulang kerja untuk mengudap tempe goreng, lumpia dan “nasi kucing” (nasi bungkus dengan porsi kecil). Sementara itu, pasangan kekasih biasanya datang lebih malam untuk berkencan. Banyak juga yang nongkrong untuk bermain musik.

Suasana yang hidup itulah yang menarik pelanggan datang kembali. Meski kini tempat itu mulai makin populer di kalangan turis dan para blogger perjalanan, suasananya tetap ramah dan intim seperti kebanyakan tempat nongkrong di Yogyakarta.

Kini meski usianya sudah menginjak 80 tahun, Pak Man kadang-kadang tetap muncul di warung kopinya untuk merebus air di ketel dan mengajak ngobrol pelanggan. Jika dia tidak ada, beberapa pria muda bertugas sebagai pelayan dan Pak Alex akan menggantikan Pak Man meracik kopi. Warung kopi itu sendiri terbuat dari kumpulan tenda dan potongan kayu yang disusun menjadi bangku panjang. Kompor di warung itu terletak di dapur temporer yang tersambung ke tiang bambu. Sesudah warung tutup, Pak Alex akan membawa pulang tiang itu.

Kopi arang imitasi
Beberapa tahun setelah Pak Man pertama kali menciptakan kopi joss, ada tiga warung lain yang muncul di sepanjang jalan yang sama. Sudut jalan itu pun kemudian makin ramai oleh pengamen, pengemis, dan tukang becak yang bergiliran muncul.


Ketika kopi joss saya sudah habis, Pak Alex bertanya pendapat saya tentang kopi itu. Saya bilang, rasanya manis, seperti kebanyakan makanan dan minuman di Jawa Tengah. Dan dari bawah kumisnya yang tidak ia tata, ia tersenyum lebar. Kopi joss sesuai buat mereka yang mencari sedikit kesenangan, sedikit tantangan, dan dinamika. Yang semuanya ada di Yogyakarta.